Selasa, 02 November 2010

Hakikat dan Sifat-Sifat (Atribut) Allah


Kita tentu sudah mengetahui sifat-sifat tradisional Allah yang telah sering dikumandangkan melalui mimbar dan pelajaran agama. Akan tetapi, Dieter Becker mengingatkan ajaran tradisional tentang sifat-sifat Allah mengandung bahaya memberi bobot yang terlalu besar pada criteria yang tidak sesuai. Sifat-sifat Allah tidak boleh dibagi menurut pokok pandangan yang sekunder. Pada dasarnya susunan dasar hakikat Allah digambarkan sebagai “kudus” dan “kasih.” Kedua sifat tersebut bukanlah sifat yang senada dengan sifat-sifat yang lain. Keduanya bahkan tidak boleh dibagi-bagi, melainkan harus menjadi titik tolak suatu penggolongan yang sesuai.
Pembicaraan mengenai hakikat dan pembagian sifat-sifat Allah (ada juga yang menyebutnya sebagai atribut ilahi) ini memang bisa menghasilkan keragaman pendapat. Sebagian mengidentifikasikan kategori yang terpisah untuk mengidentifikasikan Pribadi Allah dengan mendaftarkan gambaran seperti spiritualitas, pribadi, imensitas dan kekekalan. Namun ada juga yang menolak pengkategorian atribut, seperti Charles Ryrie dan J. Oliver Buswell, Jr.

Nama-Nama Allah
Ada sekian nama, gelar atau gambaran tentang Allah dalam PL dan dari sekian banyak itu pada umumnya memakai tiga kata dasar utama  el, elohim dan Yahweh/Yehovah. Sebenarnya Elohim adalah bentuk jamak dari El dan kedua istilah ini ternyata dapat dipakai secara bergantian (mis: Kel. 34:14; Mzm. 18:32; Ul. 32:17, 21). Elohim menekankan ketransendenan Allah di mana Ia melampaui semua yang lain yang dipanggil Allah.
Nama berikutnya, Yahweh, merupakan terjemahan kata Ibrani tetragammaton (ekspresi empat huruf) YHWH. Orang-orang Yahudi pada umumnya sangat menghormati nama ini sehingga dalam pengucapannya tidak berani menyebut nama YHWH dan menggantinya dengan kata adonai. Dengan nama Yahweh ini, Allah mengidentifikasikan diri-Nya dalam relasi pribadi-Nya dengan umat-Nya, Israel. Sedangkan adonai merupakan penekanan terhadap hubungan pelayan dan tuan (Kej. 24:9) mengungkapkan otoritas Tuhan sebagai yang berdaulat dalam pemerintahan-Nya dan kemutlakkan otoritas-Nya (Mzm. 8:2; Hos. 12:14).

    Tuhan yang kita sembah adalah YESUS KRISTUS yang adalAh  Tuhan yang maha Esa. Tuhan yang maha Esa itu menyatakan diri-Nya dalam  tiga Pribadi (Bapa, Anak dan Roh Kudus) namun tetap  Esa  dari kekal  sampai kekal  yang disebut Allah Tri Tunggal, tiga Pribadi kekal itu dalm satu dan satu dalam tiga (Matius 28:19)
Allah Tri Tunggal masing-masing  bekerja  sesuai dengan bagian-Nya tetapi untuk satu tujuan satu kuasa dan keperluan bersama. Nama ketiga yang Esa itu adalah

   1. ALLAH BAPA, Sang Pencipta, Penguasa dan Perancang dari alam semesta dan segala isinya. Nehemia 9:6
   2. ALLAH ANAK,  Firman  yang telah menjadi manuisa dan menjadi sang juru selamat. Yohanes 1:14
   3. ALLAH ROH KUDUS, Hadirat Tuhan yang bekerja sebagai pengajar, penolong, penghibur, sumber kekuatan urapan dan  yang menguduskan gereja-Nya.

Nama Tuhan beserta sifat-sifat-Nya  yang terdapat dalam Perjanjian Lama:
   1. Jehovah Jireh  = Tuhan yang mencukupkan. Kejadian 22:14, Mazmur 34:11
   2. Jehovah Rapha =  Tuhan yang menyembuhkan . Keluaran 15:26
   3. Jehovah Nissi  =  Tuhan itu panji-panjiku. Kel 17:15
   4. Jehovah Shalom = Tuhan damai sejahtera dan sukacita, Hakim 6:24, 1 Raja-raja 2:33
   5. Jehovah Rohi =  Tuhan adalah gembalaku Mazmur 23
   6. Jehovah Tsikednu = Tuhan keadilan dan kebenaran, Yeremia 23:6, 33 : 6
   7. Jehovah Shammah = Tuhan maha hadir, maha tahu, maha kuasa, Yehezkiel 48:35, Why 11:156-17
   8. Jehovah M”kadesh = Tuhan yang menguduskan, Imamat 20:8.
   9. Jehovah Sabaoth = Tuhan semesta Alam

Sifat Tuhan yang dinyatakan dalam perbuatan-Nya
   1. Tuhan itu baik dan benar. Segala sesuatu pada mulanya dicipta-kan Tuhan itu baik adanya dan hal tersebut adalah suatu perluas-an dari sifat Tuhan sendiri. Tuhan itu baik secara khusus kepada umat-Nya di dalam kebenaran. Mazmur 145:18-20.
   2. Tuhan itu kasih , ungkapan utama dari kasih-Nya adalah dengan mengutus anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus untuk mati dikayu salib dan menebus dosa  orang yang berdosa. 1 Yohanes 4: 8-10.
   3. Tuhan itu murah hati dan penyayang . seharusnya manusia itu  dibinasakan oleh Tuhan, tetapi sebaliknya Dia menawarkan  pengampunan sebagai karunia Cuma-Cuma untuk diterima  melalui iman kepada Yesus Kristus . Mazmur 108:3, Kel 34:6, Ul.4:31.
   4. Tuhan itu sabar , Tuhan sabar dengan  memberikan  kesempatan kepada setiap orang  untuk  sadar dan bertobat. 2 Petrus 3:9, Kel,34:6 Bil.14:18.
   5. Tuhan itu setia , Dia akan melaksanakan apa yang  telah dinyatakan, dijanjikan dan peringatan dalam Firman-Nya. Ulangan 7:9, Mazmur 103:8


CIPTAAN ALLAH
Alam Semesta
Acuan yang paling sering dipakai dalam membicarakan penciptaan Allah adalah Kejadian 1. Pada pasal itu dijelaskan bagaimana Allah menciptakan dunia dan seisinya. Ada beberapa penafsiran yang cukup menarik perhatian seputar penciptaan menurut Alkitab, misalnya: yang pertama adalah penafsiran Origenes (185-254). Karena pengaruh dari Neo-Platonisme, ia menganggap Kejadian 1 hanya bersifat alegoris. Pendapat Origenes ini kemudian ditentang oleh penafsiran kedua, yang disuarakan oleh Tertullianus (120-225) yang menyatakan Kejadian 1 menyatakan karya Allah dalam menjadikan dan ini cocok dengan fakta yang ada.
Dalam perkembangannya kemudian muncullah pandangan modern tentang susunan alam semesta, yang dipelopori oleh Copernicus, Galilei dan Newton, menimbulkan cara penafsiran yang baru terhadap Kejadian 1. Lalu pada tahun 1682 Thomas Burnett menyimpulkan dunia yang pertama sudah dibinasakan oleh air bah pada zaman Nuh sesuai dengan 2 Petrus 3:6. Oleh sebab itu, dunia yang sekarang ini adalah dunia yang baru, yang sudah tidak sama lagi karena air bah meneybabkan permukaan bumi dan permukaan bintang-bintang berubah, kecuali bintang Jupiter. Kesuburan yang berlebihan dan umur manusia yang panjang pun menjadi berakhir karena poros bumi menjadi miring. Di sini dapat kita lihat bagaimana Burnett mencoba memberi tempat bagi bahan-bahan hasil penyelidikan geologi dalam penafsiran Alkitab.
Kemudian pada abad ke-18 muncul suatu teori yang disebut teori konkordansi. Teori ini mengajarkan bahwa ada konkordansi atau kesesuaian di antara cerita Alkitab tentang penjadian dengan tahapan-tahapan waktu di dalam geologi. Dalam perkembangannya kemudian, muncul penafsiran yang bersifat profetis-historis oleh J. H. Kutz. Namun karena persatnya perkembangan ilmu pengetahuan, maka sifat profetis ini pun lalu dilepaskan sehingga bahan-bahan Alkitab tidak lagi mendapat perhatian yang sewajarnya. Teori ini disebut juga teori ideal yang mengajarkan bahwa kita harus melepaskan arti harafiah dari Kejadian 1 dan mengambil “ide”nya saja. Jadi, dari uraian di atas kita bisa menyimpulkan bahwa semenjak ilmu pengetahuan berkembang, ada banyak usaha para teolog untuk menghadapi tantangan ilmu pengetahuan modern.
Alkitab sendiri selain di kitab Kejadian, juga menyaksikan tentang penciptaan alam semesta di bagian-bagian lain, seperti: Yesaya 40:22; Mazmur 24:2; 104:3.

Kanonisasi Alkitab

Istilah kanon berasal dari bahasa Yunani yang berarti 'tongkat pengukur, standar atau norma'. Secara historis, Alkitab telah menjadi norma yang berotoritas bagi iman dan kehidupan bergereja. Proses pengkanonan ini dilakukan oleh berpuluh-puluh ahli kitab suci dan bahasa yang dengan teliti dan serius memilah-milah banyak tulisan yang dianggap suci untuk menemukan kitab-kitab yang benar-benar suci dan diwahyukan Allah untuk kemudian dijadikan satu.

Tanda-tanda kanonitas meliputi:

*Kitab tersebut ditulis atau disahkan oleh para nabi/rasul.
*Kitab tersebut diakui otoritasnya di kalangan gereja mula-mula.
*Kitab tersebut mengajarkan hal yang selaras dengan kitab-kitab lainnya yang jelas termasuk dalam kanon.


Kanon Perjanjian Lama (PL)
Diawali oleh tulisan Musa, koleksi kanon PL yang mayoritas dalam bahasa Ibrani secara progresif akhirnya terbentuk sejak sekitar tahun 400 SM.

1. Loh batu yang berisi 10 hukum ditaruh dalam Tabut Perjanjian (Keluaran 40:20). Loh batu tersebut masih dalam tabut ketika Salomo membawa tabut tersebut ke dalam Bait Allah yang baru saja didirikan (1 Raja-raja 8:9).
2. Kitab Taurat yang ditulis oleh Musa ditaruh di samping tabut Tuhan sebagai saksi atas kesalahan Israel (Ulangan 31:24-26; Keluaran 24:7).
3. Yosua menulis sebuah kitab yang melanjutkan kitab Taurat (Yosua 24:26).
4. Samuel menulis sebuah kitab, lalu ditaruh di hadapan Tuhan ( 1 Samuel 10:25).
5.Allah menggerakan orang lain untuk melanjutkan mencatat, misalnya:
Kisah Daud oleh Nathan dan Gad (1 Tawarikh 29:29)
Kisah Salomo oleh: Nathan, Ahia, Ido (2 Tawarikh 9:29)
6.Banyak mazmur yang ditulis oleh Daud, dan kitab nabi-nabi yang memakai nama nabi-nabi tersebut.
7. Dalam Yeremia 36:1-32 menceritakan Yeremia setelah bernubuat selama 23 tahun, baru diperintahkan Allah untuk menuliskannya. Setelah ditulis, kemudian dibacakan di hadapan raja Yoyakim. Tetapi raja membakar gulungan tulisan tersebut.
Kemudian Allah menggerakkan Yeremia untuk menulis lagi dan memberikan Yeremia banyak berita lagi. Dalam Yeremia 36:25 ditulis ada orang-orang yang memohon supaya raja jangan membakar gulungan tulisan tersebut. Ini menunjukkan bahwa mereka percaya gulungan tulisan tersebut adalah Firman Allah.
8.,Ketika Israel ditawan ke Babilonia, mereka membawa serta kitab Taurat.
Sebab Ezra menyelidiki Taurat di Babilonia dan membawa Taurat tersebut kembali ke Yerusalem (Ezra 7:6,14; Nehemia 8:1-2). Yang dimaksudkan Taurat (the Book of the Law) di sini diperkirakan adalah seluruh kitab PL yang telah ditulis saat itu.
9. Diperkirakan Ezra yang mengumpulkan semua kitab nabi-nabi paling akhir dalam PL dan menyatukannya menjadi kanon yang paling lengkap pada tahun 400 SM.
10. Sekitar tahun 200 SM (sekitar 280-150 SM), PL terjemahkan ke dalam bahasa Yunani yang disebut Septuaginta. Penterjemahan ini dilakukan di Mesir. Pada waktu itu banyak orang Yahudi yang tinggal di Mesir. Fakta bahwa pada waktu itu PL telah diterjemahkan, berarti bahwa kanon PL telah lengkap dan semua kitab itu diterima sebagai Alkitab.



Pembagian Kitab dalam PL sesuai kanon:

Taurat
Terdiri dari 5 kitab: Kejadian, Keluaran, Bilangan, Imamat, Ulangan. Disebut juga Kitab Pentateuch (artinya lima volume). Penulisnya adalah Musa. Kitab Kejadian membicarakan permulaan dari segala sesuatu. Keempat kitab yang lain membicarakan hal permulaan bangsa Israel, sebuah bangsa yang dipilih Allah untuk menyatakan karya keselamatan-Nya bagi seluruh dunia.

Sejarah
Terdiri dari 12 kitab: Yosua, Hakim-hakim, Ruth, 1 Samuel, 2 Samuel, 1 Raja-raja, 2 Raja-raja, 1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Ezra, Nehemia, dan Ester. Membicarakan tentang jatuh bangunnya bangsa Israel selama kurun waktu sekitar 1000 tahun:

*Israel menduduki Kanaan.
* Kebimbangan Israel di masa hakim-hakim.
* Kebangkitan Israel di masa Saul, Daud dan Salomo.
* kerajaan Israel yang terpecah setelah Salomo wafat: Kerajaan Utara, runtuh tahun 722 SM; dan Kerajaan Yehuda, runtuh sekitar seabad setelah itu. Tiga kitab terakhir (Ezra, Nehemia, dan Ester) mencatat sejarah kaum Israel yang tersisa setelah masa pembuangan di Babilonia.

Nyanyian
Terdiri dari 5 kitab: Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah dan Kidung Agung. Mereka disebut kitab nyanyian/puisi karena bentuk tulisannya memang demikian. Ciri khusus kitab puisi Ibrani adalah 'sense rhythm' atau pengulangan gagasan.

Nubuatan
Terdiri dari:

*5 kitab nabi besar: Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yehezkiel dan Daniel.
*12 kitab nabi kecil: Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakaria dan Maleakhi.

Para nabi ini muncul untuk menyuarakan Firman Tuhan, khususnya di masa pemberontakan, masa kemunduran dan jatuhnya kerajaan Israel dan Yehuda. Para nabi menyatakan tentang penghakiman dan pemulihan bagi dua kerajaan tersebut (Kerajaan Utara dan Yehuda).
Setelah Kitab Maleakhi, di antara PL dan PB (Perjanjian Baru), menjelang kelahiran Kristus, ada masa dimana Allah diam (tidak ada inspirasi) selama 400 tahun.


Kanon Perjanjian Baru (PB)
Setelah Tuhan Yesus naik ke surga, belum sebuah kitab pun ditulis mengenai diri dan ajaran-Nya, karena belum dirasa perlu – para saksi mata utama masih hidup. Jadi Injil masih dalam bentuk verbal, lisan; dari mulut ke mulut, oleh para rasul.

Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah para saksi mata dan para rasul berkurang, dan semakin banyak ancaman pemberitaan ajaran-ajaran sesat. Pada masa itu banyak ditemukan tulisan-tulisan yang bercorak rohani, yang sebenarnya bukan Firman Allah. Oleh karena itu gereja merasakan pentingnya ditentukan kitab-kitab mana sajakah yang dapat diakui berotoritas sebagai Firman Allah. Kemudian para rasul mulai menuliskan surat-suratnya untuk para jemaat, lalu perlahan-lahan dibuat salinan surat-surat itu untuk berbagai gereja dan salinan itu dibacakan dalam pertemuan gereja (Kolose 4:16;
1 Tesalonika 5:7, Wahyu 1:3). Tulisan-tulisan ini diinspirasikan oleh Allah (2 Petrus 1:20-21; Wahyu 22:18; Efesus 3:5).

Pada waktu yang bersamaan, ada orang-orang yang menulis kitab-kitab tentang Yesus dan surat-surat ke gereja-gereja, yang tidak termasuk kanon. Lambat- laun gereja-gereja mulai jelas mengenai kitab-kitab mana yang diinspirasikan oleh Roh Kudus.

Pada abad ke 2 kanon PB telah lengkap. Hal ini kita ketahui dari:

1. The Old Syriac – terjemahan PB pada abad kedua dalam bahasa Syria. Semua kitab ada, kecuali: 2 Petrus, 2 Yohanes, 3 Yohanes, Yudas, dan Wahyu.
2.Justin Martyr pada tahun 140 M. Semua kitab PB ada, kecuali: Filipi dan 1 Timotius.
3. The Old Latin – sebuah terjemahan sebelum tahun 200 M. Terkenal sebagai Alkitab dari gereja Barat. Semua PB ada, kecuali Ibrani, Yakobus, 1 Petrus dan 2 Petrus.
4. The Muration Canon pada tahun 170 M. Semua PB ada, kecuali: Ibrani, Yakobus, 1 Petrus dan 2 Petrus (sama dengan The Old Latin).
5.Codex Barococcio pada tahun 206 M. Semua kitab PL dan PB ada, kecuali: Ester dan Wahyu.
6. Polycarp pada tahun 150 M pernah mengutip: Matius, Yohanes, sepuluh surat Paulus, 1 Petrus, 1 Yohanes dan 2 Yohanes.
7. Irenaeus (murid Polycarp) pada tahun 170 M. Semua kitab PB ada, kecuali: Filemon, Yakobus, 2 Petrus, dan 3 Yohanes.
8.Origen pada sekitar tahun 230 M menulis daftar kitab-kitab PB, sebagai berikut: ke-4 Injil, Kisah Para Rasul, ke-13 surat-surat Paulus, 1 Petrus, 1 Yohanes dan Wahyu.
9. Eusebius di awal abad ke 4 menyebut semua kitab PB.
10. Pada tahun 367 M dalam Festal Letter yang ditulis oleh Athanasius, Bishop Alexandria, mencantumkan daftar 27 kitab-kitab PB.
11 Jerome pada tahun 382 M, Ruffinua pada tahun 390 M dan Augustine pada tahun 394 M mencatat kanon PB sebanyak 27 kitab.
12.Akhirnya pada tahun 397 M, konsili gereja di Carthago mengesahkan 27 kitab PB.

Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang ditebus, yang beriman sungguh-sungguh di dalam Kristus bukan menentukan atau menciptakan kanon, tetapi gereja hanya mengesahkan kitab-kitab yang memiliki tanda kanonitas dan karena itu kitab-kitab tersebut memiliki otoritas dalam gereja.



Pembagian kitab dalam PB sesuai kanon:

Injil
Terdiri dari empat kitab: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Mencatat tentang kehidupan dan pelayanan Yesus selama di dunia. Matius menekankan Yesus sebagai raja, Markus menekankan Yesus sebagai hamba, Lukas menekankan Yesus sebagai manusia, Yohanes menekankan Yesus sebagai Anak Allah. Meskipun keempat penulis mempunyai penekanan yang berbeda-beda, tetapi tulisan-tulisan mereka satu dengan yang lain tetap harmonis.

Sejarah
Terdiri dari satu kitab, yaitu Kitab Para Rasul. Mencatat perkembangan kekristenan setelah kenaikan Yesus.

Surat-surat
Terdiri dari:
*14 surat Paulus: Roma, 1 Korintus, 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 Tesalonika, 2 Tesalonika, 1 Timotius, 2 Timotius, Titus, Filemon, dan Ibrani.
*7 surat bukan dari Paulus : Yakobus, 1 Petrus, 2 Petrus, 1 Yohanes, 2 Yohanes, 3 Yohanes, dan Yudas.

Kitab Apokaliptik
Terdiri satu kitab, yaitu Wahyu. Kitab ini merupakan kitab terklimaks dalam Alkitab, memberi kita gambaran mengenai masa yang akan datang dan penggenapan sejarah pada saat kedatangan Kristus yang kedua kali sebagai Hakim yang Agung.

Alkitab (PL dan PB) sebagai Firman Allah
Alkitab adalah Firman Allah, oleh karena itu Alkitab memiliki beberapa karakteristik yang tidak dimiliki oleh kitab-kitab manapun:

Berkuasa
Alkitab berkuasa dan memiliki wibawa tertinggi bagi kehidupan manusia. Alkitab menyatakan apa yang benar dan salah secara mutlak, sehingga manusia wajib mempercayai dan mengikutinya.
Cukup
Alkitab cukup untuk menyatakan kehendak Allah kepada manusia sesuai dengan yang Allah nyatakan. Alkitab tidak perlu ditambah atau dikurangi. Tidak ada kitab lain yang memiliki nilai otoritas dan kuasa yang setara dengan Alkitab. Tidak ada ayat di dalam Alkitab yang boleh dibuang dan dinyatakan tidak berlaku sampai akhir dunia ini.
Tidak bisa khilaf (infallible)
Karena Alkitab merupakan Firman Allah yang dituliskan melalui pengilhaman Roh Kudus, maka Alkitab tidak bersalah sedikit pun (tidak mungkin menyesatkan/khilaf) dalam maksud dan ajarannya.
Tidak bisa salah (inerrancy)
Alkitab tidak bisa salah karena bukan produk manusia. Alkitab diilhamkan oleh Allah yang Maha Benar sendiri dan Roh Kudus turut berperan dalam penulisannya. Karena itu Alkitab tidak bisa salah dalam ajaran, maksud dan juga kalimat-kalimatnya (baik secara geografis, historis, maupun teologis). Pemahaman ini khususnya menunjuk pada setiap huruf pada naskah asli Alkitab, yang tidak bersalah hingga detil terkecil.