A. Pengertian :
Psikosomatis, ditilik dari asal katanya yaitu psyche (mind) dan soma (body), berarti gangguan secara psikologis yang berakibat ketubuh kita. Beberapa jenis penyakit yang kerap menghampiri kita biasanya disebabkan oleh tekanan pikiran / stres. Pada dasarnya stres itu tidaklah buruk, ada stres yang bahkan memicu manusia agar melakukan hal-hal yang menyenangkan sebagai jalan keluarnya yaitu eu stress. Sedangkan Acute stress disebabkan karena kemacetan, deadline kerjaan ataupun tugas-tugas kuliah misalnya jadi lebih kepada stres sehari-hari.
Gangguan psikosomatis atau somatisasi adalah gangguan psikis yang menyebabkan gangguan fisik. Pendek kata, psikosomatik adalah penyakit fisik yang disebabkan oleh pikiran negatif dan/atau masalah emosi. Masalah emosi itu antara lain rasa berdosa, merasa punya penyakit, stress, depresi, kecewa, kecemasan atau masalah emosi negatif lainnya. Gangguan ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa, anak-anak pun bisa mengalaminya.
Untuk memahami terjadinya penyakit psikosomatis kita perlu mencermati hukum pikiran dan pengaruh emosi terhadap tubuh. Ada banyak hukum yang mengatur cara kerja pikiran, salah duanya adalah:
• Setiap pikiran atau ide mengakibatkan reaksi fisik.
• Simtom yang muncul dari emosi cederung akan mengakibatkan perubahan pada tubuh fisik bila simtom ini bertahan cukup lama.
B. Akibat dari Psikosomatis
Penyebab psikosomatis adalah chronic stress, stres ini bertahan lebih lama dan bila manusia telah ada ditahap stres ini biasanya akan terus menerus diserang pikiran2nya sendiri sampai kondisi fisik maupun mentalnya semakin melemah. Kita sering mendengar physical breakdown, hal ini terjadi karena manusia biasanya tidak sadar ataupun menyangkal kalau sedang mengalami stres yang pada tahap tertentu mengakibatkan tubuhnya kelelahan. Kondisi semacam ini biasanya ditandai dengan gejala gatal-gatal, adanya jerawat, mual, pusing, rambut rontok atau sakit maag. Akan tetapi jika gejala ini semakin intens bisa menyebabkan muntah darah, serangan jantung, stroke, kejang – kejang bahkan menderita kanker.
Penderita psikosomatis ketika diperiksa secara medis tidak ditemukan penyebabnya walau si penderita merasakan sakit. Gejala yang muncul pada setiap penderita psikosomatis ini ada yang sama ada juga yang berbeda tergantung dari ketahan tubuh manusia tersebut bagian fisik manakah yang paling lemah saat stres menyerang. Oleh sebab itulah maka perlunya kita menjaga ketahanan tubuh kita tetap prima.
C. Penanganan dari Psikosomatis
Dari situasi tersebut penderita psikosomatis tidaklah bisa disembuhkan melalui pengobatan secara medis dengan obat-obatan. Penyembuhan bagi penderita psikosomatis adalah dari “dalam diri” si penderita supaya tidak terjadi stres yang berkepanjangan, untuk itu ada beberapa solusi untuk menghindari terjadinya stres dan sembuh dari psikosomatis yaitu :
1. Hidup dengan pola pikir positif
Harus dapat merubah mind set agar lebih positif, ketika kita positif maka kita bisa menerima hal-hal yang terjadi di kehidupan kita sehingga kita akan terhindar dari stres.
2. Realistis
Manusia yang realistis lebih dapat menerima kenyataan, dapat pasrah dan menerima apa adanya.
3. Lawan
stres harus dilawan atau dikalahkan dengan kekuatan dari dalam diri manusia itu sendiri yaitu berpikiran positif.
4. Sehat jasmani dan rohani
Menjalankan pola hidup yang benar dengan mengkonsumsi 4 sehat 5 sempurna, cukup tidur dan berolah raga. Lakukan relaksasi, meditasi, yoga atau dapat dengan meluangkan waktu untuk berlibur melepaskan dari kepenatan rutinitas kita sehari-hari.
D. Pandangan Alkitab dari gejala Psikosomatis
Banyak di antara kita yang cenderung tidak ingin melihat diri sendiri dalam keadaan lemah, kurang mampu mengatasi masalah. Tampaknya lebih nyaman untuk menilai bahwa gangguan kesehatan yang kita alami adalah karena kelelahan, karena salah makan, dan sejenisnya. Namun, bila kita buta mengenai keadaan diri kita sendiri, tentu saja tidak akan dapat mengatasi persoalan secara tepat. Satu solusi semuanya terangkum di dalam Alkitab sehingga bagaimana kita mengatasi gangguan yang ada sesuai dengan pandangan Alkitab
a. Pandangan Alkitab mengenai pikiran yang positif
Dalam Galatia 5:9 berkata “Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan”. Bagamana memposisikan pikiran kita kepada karya Tuhan yang ajaib bagi kehidupan kita sehingga kita tidak stress dengan keadaaan yang ada di sekitar kita. Menerapkan konsep berpikir positif dalam memandang satu atau sejumlah permasalahan kehidupan, memang tidaklah mudah. Dikatakan demikian, karena banyak anak manusia yang cenderung lebih mudah mencerna atau memandang sesuatu pada sisi negatifnya, sedangkan sisi positifnyadilupakan. Bisa dibilang, kondisi seperti itu sudah menjadi fenomena umum ditengah-tengah masyarakat kita. Ketegangan pikiran yang disebabkan oleh beratnya beban pekerjaan, adanya sejumlah permasalahan hidup yang sedangdihadapi, atau dalam posisi emosional, sering kali membuat seseorang tidak dapat berpikir positif terhadap keadaan atau situasi yang sedang dihadapi.
Pengertian lainnya, konsep berpikir positif adalah upaya besar kita untuk mendikte setiap alur pemikiran dan pola sikap kita dengan tetap membuat pilihan-pilihan normatif serta terukur, dimana pilihan-pilihan itu membuat kita terlatih untuk membuat kesimpulan dan keputusan benar. Kecuali terkait dengan prinsip keimanan, ada baiknya kita jangan
terpaku pada satu dasar pemikiran semata. Segala tindakan yang diambil seseorang yang ingin menerapkan konsep berpikir positif, selalu diarahkan agar tidak melihat yang buruk-buruknya saja, namun meyakini kalau setiap masalah pasti ada hikmah yang dapat dipetik serta dapat dipakai sebagai langkah membawa diri pada sikap dan gaya hidup yang benar. Belajar berpikir positif dapat kita lakukan dimana-mana, di setiap langkah kehidupan yang harus kita lalui. Semakin kita mau belajar untuk berpikir positif dan tetap berusaha berpikir positif, maka itu sama artinya kita telah mengembangkan kualitas diri kita tanpa harus kita membuat kesalahan yang tidak perlu kita lakukan. Buatlah diri kita merupakan kehidupan yang di adoni dengan pemikiran yang selalu positif.
b. Pandangan Alkitab mengenai rasa berdosa dan kecewa
Banyak hal yang bisa kita pilih dalam kehidupan ini namun ada beberapa hal yang tidak bisa kita pilih. Diantaranya yang tidak bisa kita pilih adalah kita tidak bisa memilih dimana akan dilahirkan dan siapa yang akan menjadi orang tua kita.Saya tidak bisa memilih dilahirkan sebagai seseorang yang berkelamin laki-laki dari orang Indonesia keturunan etnis Tionghoa.Saya tidak bisa memilih untuk dilahirkan sebagai anak yang ditolak dan setelah saya selidiki ternyata orang tua saya juga telah mengalami penolakan dari generasi sebelumnya.Akan tetapi, saya bisa memilih untuk dipulihkan dengan membuka diri terhadap proses pemulihan dari Tuhan sehingga generasi setelah saya tidak harus mengalami luka penolakan yang pernah saya alami.Anda semua yang bergumul dengan luka-luka batin juga dapat memilih untuk dipulihkan oleh Tuhan jika anda mau terbuka dan diproses olehNya.Langkah pertama untuk mengalami proses pemulihan tentu anda harus terlebih dahulu memiliki keinginan untuk dipulihkan.
Dengan mengutip ayat seperti Mzm. 139:13–14 yang berkata “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya “.Orang didorong untuk merasa dirinya berharga dan memiliki kepercayaan diri. Padahal sesungguhnya itu hanya merupakan pengembangan kepribadian, yang tidak ada bedanya dengan pelatihan pengembangan diri oleh para motivator di luar gereja. Memang saat manusia jatuh ke dalam dosa, gambar diri yang ditempatkan Allah telah rusak. Namun Ia ingin agar kita memiliki kembali gambar diri dari Allah tersebut. Tuhan Yesuslah teladan kita, Ia harus hidup di dalam diri kita. Itulah sebabnya kita harus selalu mengenakan pikiran dan perasaan Kristus. Milikilah tujuan hidup yang jelas, sehingga kita punya semangat untuk memaknai hari-hari kita. Milikilah motivasi yang tulus, supaya kita dapat merasakan sukacita saat hendak mencapai tujuan. Milikilah perencanaan yang benar, agar kita menjadi orang-orang yang bijaksana karena tidak menyia-nyiakan waktu hidup kita. Mari menjadi anak-anak Tuhan yang rajin dan penuh semangat dalam hidup ini, seperti apa yang telah Paulus lakukan, "Aku ... berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus" (Filipi 3:14).
c. Pandangan Alkitab mengenai hidup sehat secara rohani.
Lewat Firman dalam Amsal 11:17. Yang berkata “Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri.”- Kesehatan tidak bisa dipisahkan dari kesuksesan. Jika kita memiliki kesehatan yang prima, kita pun bisa bekerja dengan penuh semangat, penuh vitalitas dan konsentrasi penuh. Namun jika kita sakit-sakitan, sedikit banyak tentu hal tersebut berpengaruh terhadap pekerjaan ataupun kesuksesan kita. Saat saya sakit, saya juga tidak bisa berbuat banyak. Bukankah demikian juga halnya dengan Anda? Menurut sebuah penelitian, seberapa bagus tingkat kesehatan kita akan ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan kita. Itu sebabnya jika kita ingin memiliki kesehatan yang baik, kita harus mulai mengubah pola pikir, pola makan dan pola hidup kita. Itulah tiga hal yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan.
E. Kesimpulan
Psikosomatis perlu ditangani sedini mungkin sebab dapat mempengaruhi yang lain, karena pada tahap yang intens akan mengganggu kualitas hidup manusia tersebut terhadap orang lain. Sebagai contoh penderita psikosomatis parah akan mengalami penebalan kulit yang menimbulkan bau. Keadaan inilah yang akan mengganggu manusia disekelilingnya dan bagi penderita bisa menurunkan rasa percaya diri yang dapat lebih memperburuk keadan si penderita. Ketidak teraturan adalah faktor utama penyebab stres. Perasaan bahwa segala sesuatu kacau balau dan di luar kontrol seringkali merupakan penyebab dari stres. Hal ini terutama sekali ketika Anda telah menderita stres dan kelelahan syaraf.
"Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal." (1 Tim 4:8a) Beberapa orang Kristen percaya bahwa ayat Alkitab ini menunjukkan bahwa latihan badani tidak berguna, walau pada kenyataannya ayat ini mengatakan bahwa latihan badani ini berguna, tetapi hanya sedikit bila dibandingkan dengan latihan secara rohani yang berguna bagi kita secara kekal. Alasan bahwa hal ini hanya berguna sedikit, sebab tubuh secara fisik adalah hanya bagi waktu, tetapi roh kita kekal. Sayangnya banyak orang Kristen tampak memiliki pengaruh bahwa latihan fisik tidak rohani dan mereka memiliki ide bahwa sebab mereka orang Kristen tubuh mereka tidak diperuntukkan pada beberapa alat seperti yang dilakukan oleh orang non Kristen.
Ini adalah satu kenyataan yang tidak dapat disangkal bahwa latihan teratur adalah penting bagi pemeliharaan kesehatan yang tepat. Ini juga benar bahwa latihan ini penting bagi kesehatan emosional Anda yang kacau balau. Kesehatan orang, yang berlatih secara teratur, adalah jauh berkurang untuk menderita kekacauan yang dapat disebabkan oleh stres. Berjalan-jalan santai adalah latihan yang paling sederhana, dan mungkin tipe terbaik untuk latihan fisik. Ini tidak meminta alat tipe khusus apapun dan dapat dengan mudah di masukkan dalam gaya hidup dan komitmen Anda yang tetap.
Selasa, 26 Oktober 2010
Bahaya Laten Illuminati , Freemason & New World Order ses3
Dalam buku The Challenge of the Cults and New Religions, Ron Rhodes menyebutkan empat kegagalan Gereja Kristen yang mendorong berkembangnya keanggotaan gereja-gereja alternative-sesat:
1. Gagal menuntun anggota kepada perubahan kehidupan rohani. Menjadi umat percaya tetapi tidak dibarengi oleh perubahan sikap hidup yang sungguh-sungguh. Artinya bahwa ‘pemuridan’ dan ‘pelatihan’ tidak jalan dalam jemaat. Tidak menemukannya di jemaat sendiri, anggota pergi mencarinya di tempat lain.
2. Gagal memberikan ‘rasa memiliki’. Ada banyak anggota yang berpindah ke tempat yang kita sebut ‘sesat’ karena mereka merasa kesepian, tidak mendapat sahabat, dan tidak menemukan jati dirinya di jemaat. Sebaliknya mereka menemukan rasa diterima, rasa diperhatikan dan berarti dan ambil bagian, dan merasa bahwa mereka ada sumbangsi di tempat lain.
3. Gagal memenuhi kebutuhan dasar anggota. Dewasa ini orang berusaha untuk mendapatkan jawaban terhadap pertanyaan dasar, seperti: ‘Siapa aku ini?’ ‘Apa arti kehidupan?’ ‘Kemana saya pergi di akhir kehidupan?’. Bila pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak terjawab, anggota beralih untuk mencari jawaban di tempat lain.
4. Gagal menekankan pentingnya pengetahuan doktrin Alkitab. Ajaran sesat sama dengan ajaran palsu, tetapi tanpa memberikan pengetahuan yang memadai kepada anggota akan apa yang disebut kebenaran (Misalnya doktrin mengenai: KeAllahan, Yesus Kristus, Manusia, Dosa dan Keselamatan, Alkitab, dst), dengan mudah anggota akan terpengaruh dengan ajaran sesat.
Bagaimana kondisi di jemaat kita (?) Rasul Paulus menyebutkan jemaat sebagai ‘keluarga Allah,’ ‘jemaat Allah yang hidup,’ ‘tiang penopang’ dan ‘dasar kebenaran.’ (1 Tim 3:15). Jika jemaat kita gagal, kita gagal memenuhi misi yang diberikan Tuhan kepada jemaat. “Marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibr 10:25).
Pada saat gereja meninggalkan lingkungan keyahudiannya, ia menemukan tempat berpijak yg baru : kerajaan romawi dan seluruh bumi ini. Gereja mula-mula membawa serta imannya kepada yesus sang mesias, karena orang yahudi yg mengikuti-nya telah melihat mesias, imanuel ,allah beserta kita, sang bentara kerajaan; dan ia menampakan kehidupan kerajaan itu.
Kini di luar lingkungan yahudi gereja mesti melanjutkan sendiri pengenalannya tentang yesus tersebut . dan memang penekannya sedikit demi sedikit berubah. Karena berhadapan dengan dunia terbuka, ia harus menerjemahkan fungsi gereja purba ke dalam perspektif yg bagi dunia luas memiliki makna.
Kata ibrani yesyua, berubah menjadi yesus. Kata mesias dari bahasa ibrani, menjadi kristus. Pemahaman yesus selaku mesias bersumber pada banyak citra yg muncul dalam perjanjian lama dan tradisi yahudi. Sedikit dari kisah mesias ben daud, sedikit dari mesias ben yusuf, dan sedikit dari kisah umat allah selaku hamba yg menderita dalam yesaya 53 itu.
Gereja membentuk kembali beberapa dari gagasan yahudi yg bermacam-macam itu dan memberinya makna yg baru. Dan karena yesus tidak sepenuhnya “pas” dengan gagasan tradisional tentang mesias, maka gelar itu pun diberi nama baru : mesias menjadi kristus. Orang yahudi tidak melihat yesus selaku mesias, juga mereka tidak dapat juga menunjukan mesianisme dalam diri kristus yg dipercayai gereja sebagai manusia yg pernah berjalan di kota yerusalem dan galilea itu.
“pembacaan alkitab secara keseluruhan meninggalkan kesan yg kuat bahwa mesias akan membawa damai dan ia akan berupa manusia, bahwa allah itu satu dan bahwa peraturan ibadah akan dijalankan seturut dengan ketentuannya.” Namun, gereja telah meninggalkan masa lalu itu, dan memberi fokus kepada kristus dari pada kepada yesus. Apa yg penting kemudian adalah dimensi universal kristus, yaitu kristus kosmis, yg jelas sedikit sekali hubungannya dengan yesus sang manusia yg nyata itu. Selanjutnya, tidak ada lagi perkataan tentang kehidupan yesus dalam pengakuan iman dan tidak ada acuan lagi pada pengajaran-Nya. Namun, ia dipenuhi dengan fungsi penyelamatan dari kristus dan bagaimana ia turun ke bumi menyelamatkan manusia. Masa kehamilan dan kelahiran-nya menjadi petunjuk bagi tugas-nya. Hidupnya dilihat dalam terang kematian-nya. Ia lahir untuk mati dan akibatnya kematian-nya lebih penting dari jalan hidup-nya. Kematian-nya bermakna penyelamatan bagi yg percaya dan melalui kebangkitan-nya, akan bermakna pula sebagai jaminan dan sumber keselamatan tersebut.
Keselamatan yg digambarkan dalam perjanjian baru ternyata memiliki banyak citra. Pemberitaan yesus bahwa keselamatan sudah dekat ternyata terjalin dengan pengajaran-nya akan kerajaan allah. Di sini keselamatan itu memiliki dimensi religius, komunal, individual, dan sosial. Ia menjadi realitas sekarang dan realitas masa depan. Setelah paskah, kematian dan kebangkitan, yesus kristus menjadi citra yg utama akan keselamtan itu. Peristiwa golgota disamakan dengan peristiwa keselamatan itu. Namun tidak seorang pun yg memperhatikan bahwa keselamtan itu sudah nyata. Walaupun memang keselamatan itu berlangsung di dalam sejarah – “menderita dibawah pemerintahan Pontius pilatus , disalibkan, mati, dan dikubur” – barangkali ia terjadi tanpa dan di luar keterlibatan manusia. Orang-orang yg turut mengambil andil dalam kematian-nya hanya tambahan, menjadi penonton drama keselamatan kosmis itu yg tidak menyisakan ruang bagi peran aktif manisia. Kita dipanggil untuk ikut mengumpulkan buah-buah keselamatan itu, tetapi kita tidak dapat ikut serta dengan juruselamat itu dalam tindakan penyelamatan-nya. Tiba-tiba, tanpa sepengetahuan kita, meja keselamtan telah dibentangkan di depan manusia.
Dalam yudaisme, peran umat allah cukup besar dalam drama keselamtan itu. Israel berperan dalam hal itu. Keselamatan yg allah tawarkan kepada Israel memang berlangsung dalam sejarah, tetapi Israel tidak boleh hanya menjadi penontonnya ; Israel harus bersiap, memperlengkapi diri dan ikut “main” bersama. Malaikat tuhan melewati rumah-rumah Israel, hal itu terjadi karena Israel telah siap untuk keselamtan dengan menyiram pintu depan mereka dengan darah anak lembu. Dan ketika dengan tangan yg kuat dan teracung, tuhan menyelamtkan umat-nya dari kuasa mesir, itu terjadi dengan persiapan umat atas keselamtan itu. Mereka menyiapkan roti, yg tidak perlu ditunggu sampai beragi, tetapi membawa tempayan adonan dalam jubah mereka. Mereka mengangkat harta benda mereka keluar dari mesir, dan keselamatan terjadi. Di padang gurun keselamatan terjadi disaat Israel mengangkat torah dipunggungnya. Israel tidak dapat tinggal diam saja. Keselamatan berarti sudah keluar dari mesir dan dan masuk ke dalam dunia dengan membawa torah dipunggungnya. Tanpa jawaban Israel bahwa “segala yg difirmankan tuhan akan kami lakukan” ( kel.19:8), maka tidak akan ada keselamatan.
Jadi keselamatan menurut tradisi yahudi tidak terutama sebagai suatu gagasan teologis, yg sering dihubungkan dengan pemahaman teologis yg jelas buatan manusia. Keselamatan bukan terutama sebagai obat melawan dosa atau dari keberdosaan dunia yg jatuh ini, atau sebagai obat melawan dosa asal. Bukan juga sebagai upaya lari atau berjuang menuju “ yang mengatasi” semua itu. Bumi bukanlah tempat yg asing di mana manusia yg dibebaskan untuk terlibat dalam dunia ini karena tidak ada tempat yg lain ; hanya bumi inilah sebagai kediaman kita yg tuhan ciptakan.
Dears all, menampilkan pandangan Pendeta Hans Ucko tersebut diatas dengan maksud sebagai pembanding bagi posting2 sebelumnya pada topik ini yg sangat berat pada aspek geopolitik internasional dengan menempatkan bangsa Yahudi sebagai "sesuatu yg harus diwaspadai oleh semua agama lain, semua bangsa lain ". Saya pribadi tidak terlalu setuju kalau hanya melihat dari perspektif yg tidak fair bagi bangsa Yahudi. Banyak tokoh - tokoh Yahudi yg menentang cara - cara zionisme yg menghalalkan segala cara.
1. Gagal menuntun anggota kepada perubahan kehidupan rohani. Menjadi umat percaya tetapi tidak dibarengi oleh perubahan sikap hidup yang sungguh-sungguh. Artinya bahwa ‘pemuridan’ dan ‘pelatihan’ tidak jalan dalam jemaat. Tidak menemukannya di jemaat sendiri, anggota pergi mencarinya di tempat lain.
2. Gagal memberikan ‘rasa memiliki’. Ada banyak anggota yang berpindah ke tempat yang kita sebut ‘sesat’ karena mereka merasa kesepian, tidak mendapat sahabat, dan tidak menemukan jati dirinya di jemaat. Sebaliknya mereka menemukan rasa diterima, rasa diperhatikan dan berarti dan ambil bagian, dan merasa bahwa mereka ada sumbangsi di tempat lain.
3. Gagal memenuhi kebutuhan dasar anggota. Dewasa ini orang berusaha untuk mendapatkan jawaban terhadap pertanyaan dasar, seperti: ‘Siapa aku ini?’ ‘Apa arti kehidupan?’ ‘Kemana saya pergi di akhir kehidupan?’. Bila pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak terjawab, anggota beralih untuk mencari jawaban di tempat lain.
4. Gagal menekankan pentingnya pengetahuan doktrin Alkitab. Ajaran sesat sama dengan ajaran palsu, tetapi tanpa memberikan pengetahuan yang memadai kepada anggota akan apa yang disebut kebenaran (Misalnya doktrin mengenai: KeAllahan, Yesus Kristus, Manusia, Dosa dan Keselamatan, Alkitab, dst), dengan mudah anggota akan terpengaruh dengan ajaran sesat.
Bagaimana kondisi di jemaat kita (?) Rasul Paulus menyebutkan jemaat sebagai ‘keluarga Allah,’ ‘jemaat Allah yang hidup,’ ‘tiang penopang’ dan ‘dasar kebenaran.’ (1 Tim 3:15). Jika jemaat kita gagal, kita gagal memenuhi misi yang diberikan Tuhan kepada jemaat. “Marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibr 10:25).
Pada saat gereja meninggalkan lingkungan keyahudiannya, ia menemukan tempat berpijak yg baru : kerajaan romawi dan seluruh bumi ini. Gereja mula-mula membawa serta imannya kepada yesus sang mesias, karena orang yahudi yg mengikuti-nya telah melihat mesias, imanuel ,allah beserta kita, sang bentara kerajaan; dan ia menampakan kehidupan kerajaan itu.
Kini di luar lingkungan yahudi gereja mesti melanjutkan sendiri pengenalannya tentang yesus tersebut . dan memang penekannya sedikit demi sedikit berubah. Karena berhadapan dengan dunia terbuka, ia harus menerjemahkan fungsi gereja purba ke dalam perspektif yg bagi dunia luas memiliki makna.
Kata ibrani yesyua, berubah menjadi yesus. Kata mesias dari bahasa ibrani, menjadi kristus. Pemahaman yesus selaku mesias bersumber pada banyak citra yg muncul dalam perjanjian lama dan tradisi yahudi. Sedikit dari kisah mesias ben daud, sedikit dari mesias ben yusuf, dan sedikit dari kisah umat allah selaku hamba yg menderita dalam yesaya 53 itu.
Gereja membentuk kembali beberapa dari gagasan yahudi yg bermacam-macam itu dan memberinya makna yg baru. Dan karena yesus tidak sepenuhnya “pas” dengan gagasan tradisional tentang mesias, maka gelar itu pun diberi nama baru : mesias menjadi kristus. Orang yahudi tidak melihat yesus selaku mesias, juga mereka tidak dapat juga menunjukan mesianisme dalam diri kristus yg dipercayai gereja sebagai manusia yg pernah berjalan di kota yerusalem dan galilea itu.
“pembacaan alkitab secara keseluruhan meninggalkan kesan yg kuat bahwa mesias akan membawa damai dan ia akan berupa manusia, bahwa allah itu satu dan bahwa peraturan ibadah akan dijalankan seturut dengan ketentuannya.” Namun, gereja telah meninggalkan masa lalu itu, dan memberi fokus kepada kristus dari pada kepada yesus. Apa yg penting kemudian adalah dimensi universal kristus, yaitu kristus kosmis, yg jelas sedikit sekali hubungannya dengan yesus sang manusia yg nyata itu. Selanjutnya, tidak ada lagi perkataan tentang kehidupan yesus dalam pengakuan iman dan tidak ada acuan lagi pada pengajaran-Nya. Namun, ia dipenuhi dengan fungsi penyelamatan dari kristus dan bagaimana ia turun ke bumi menyelamatkan manusia. Masa kehamilan dan kelahiran-nya menjadi petunjuk bagi tugas-nya. Hidupnya dilihat dalam terang kematian-nya. Ia lahir untuk mati dan akibatnya kematian-nya lebih penting dari jalan hidup-nya. Kematian-nya bermakna penyelamatan bagi yg percaya dan melalui kebangkitan-nya, akan bermakna pula sebagai jaminan dan sumber keselamatan tersebut.
Keselamatan yg digambarkan dalam perjanjian baru ternyata memiliki banyak citra. Pemberitaan yesus bahwa keselamatan sudah dekat ternyata terjalin dengan pengajaran-nya akan kerajaan allah. Di sini keselamatan itu memiliki dimensi religius, komunal, individual, dan sosial. Ia menjadi realitas sekarang dan realitas masa depan. Setelah paskah, kematian dan kebangkitan, yesus kristus menjadi citra yg utama akan keselamtan itu. Peristiwa golgota disamakan dengan peristiwa keselamatan itu. Namun tidak seorang pun yg memperhatikan bahwa keselamtan itu sudah nyata. Walaupun memang keselamatan itu berlangsung di dalam sejarah – “menderita dibawah pemerintahan Pontius pilatus , disalibkan, mati, dan dikubur” – barangkali ia terjadi tanpa dan di luar keterlibatan manusia. Orang-orang yg turut mengambil andil dalam kematian-nya hanya tambahan, menjadi penonton drama keselamatan kosmis itu yg tidak menyisakan ruang bagi peran aktif manisia. Kita dipanggil untuk ikut mengumpulkan buah-buah keselamatan itu, tetapi kita tidak dapat ikut serta dengan juruselamat itu dalam tindakan penyelamatan-nya. Tiba-tiba, tanpa sepengetahuan kita, meja keselamtan telah dibentangkan di depan manusia.
Dalam yudaisme, peran umat allah cukup besar dalam drama keselamtan itu. Israel berperan dalam hal itu. Keselamatan yg allah tawarkan kepada Israel memang berlangsung dalam sejarah, tetapi Israel tidak boleh hanya menjadi penontonnya ; Israel harus bersiap, memperlengkapi diri dan ikut “main” bersama. Malaikat tuhan melewati rumah-rumah Israel, hal itu terjadi karena Israel telah siap untuk keselamtan dengan menyiram pintu depan mereka dengan darah anak lembu. Dan ketika dengan tangan yg kuat dan teracung, tuhan menyelamtkan umat-nya dari kuasa mesir, itu terjadi dengan persiapan umat atas keselamtan itu. Mereka menyiapkan roti, yg tidak perlu ditunggu sampai beragi, tetapi membawa tempayan adonan dalam jubah mereka. Mereka mengangkat harta benda mereka keluar dari mesir, dan keselamatan terjadi. Di padang gurun keselamatan terjadi disaat Israel mengangkat torah dipunggungnya. Israel tidak dapat tinggal diam saja. Keselamatan berarti sudah keluar dari mesir dan dan masuk ke dalam dunia dengan membawa torah dipunggungnya. Tanpa jawaban Israel bahwa “segala yg difirmankan tuhan akan kami lakukan” ( kel.19:8), maka tidak akan ada keselamatan.
Jadi keselamatan menurut tradisi yahudi tidak terutama sebagai suatu gagasan teologis, yg sering dihubungkan dengan pemahaman teologis yg jelas buatan manusia. Keselamatan bukan terutama sebagai obat melawan dosa atau dari keberdosaan dunia yg jatuh ini, atau sebagai obat melawan dosa asal. Bukan juga sebagai upaya lari atau berjuang menuju “ yang mengatasi” semua itu. Bumi bukanlah tempat yg asing di mana manusia yg dibebaskan untuk terlibat dalam dunia ini karena tidak ada tempat yg lain ; hanya bumi inilah sebagai kediaman kita yg tuhan ciptakan.
Dears all, menampilkan pandangan Pendeta Hans Ucko tersebut diatas dengan maksud sebagai pembanding bagi posting2 sebelumnya pada topik ini yg sangat berat pada aspek geopolitik internasional dengan menempatkan bangsa Yahudi sebagai "sesuatu yg harus diwaspadai oleh semua agama lain, semua bangsa lain ". Saya pribadi tidak terlalu setuju kalau hanya melihat dari perspektif yg tidak fair bagi bangsa Yahudi. Banyak tokoh - tokoh Yahudi yg menentang cara - cara zionisme yg menghalalkan segala cara.
Langganan:
Postingan (Atom)